Detail Cantuman Kembali

XML

Studi Penggunaan Obat Pada Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK)


Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronis yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran nafas yang bersifat progresif irreversibel atau reversibel parsial dan meliputi emfisema dan bronkitis kronik. Emfisema ditandai dengan kelainan anatomi paru berupa kerusakan dan membesarnya alveoli paru secara permanen sedangkan bronkitis kronik ditandai dengan batuk kronis produktif selama minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang¬kurangnya 2 tahun berturut-turut. Faktor utama timbulnya PPOK yaitu rokok karena merokok akan meningkatkan oksidan yang dapat merusak sel dan jaringan sehingga terjadi proses inflamasi serta mengganggu keseimbangan protease¬antiprotease dengan menghambat aktifitas antiprotease dan meningkatkan sintesa elastase yang akan mendegradasi elastin (komponen dari dinding alveolar). Terapi untuk pasien PPOK secara umum adalah bronkodilator, kortikosteroid, dan antibiotik. Penyakit ini bersifat progresif sehingga umumnya terjadi pada pasien usia lanjut dan memiliki riwayat penyakit lain sehingga pengobatan hams lebih diperhatikan. Untuk mendapatkan basil yang maksimal, obat yang diberikan pada pasien hendaknya memperhatikan beberapa hal, seperti tepat indikasi, tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara dan waspada efek samping obat dan terjadinya interaksi obat.
Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi faktor resiko yang dapat menimbulkan PPOK, mengkaji data laboratorium dan data klinik dengan terapi penggunaan obat pada pasien PPOK yang meliputi penggunaan obat dan kombinasinya, dosis, rute pemakaian, interval pemberian, frekuensi, efek samping, serta lama penggunaan, dan mengidentifikasi adanya DRP (Drug Related Problem) dari terapi penggunaan obat pada pasien PPOK.
Penelitian yang dilakukan bersifat analisis deskriptif dan pengumpulan data secara retrospektif Bahan penelitian yang digunakan adalah Rekam Medik Kesehatan (RMK) pasien dengan diagnosa akhir Penyakit Pam Obstruksi Kronik (PPOK) dan komplikasinya di RUMKITAL Dr. Ramelan Surabaya pada periode I Januari-31 Desember 2007. Analisis dilakukan berdasarkan data yang didapat dari Rekam Medik pasien PPOK yang meliputi keterkaitan faktor demografi dan resiko PPOK, keterkaitan antara data laboratorium dan data klinik dengan terapi secara deskriptif, profil penggunaan obat untuk terapi PPOK, meliputi macam dan kombinasi obat, dosis, rute pemakaian, interval pemberian, frekuensi, efek samping, lama penggunaannya serta kemungkian interaksi yang ditimbulkannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien laki-laki (74%) lebih mendominasi PPOK dengan sebaran usia terbanyak pada usia 60-80 tahun. Prevalensi PPOK tertinggi pada pasien pria berhubungan dengan faktor resiko yaitu merokok yang didominasi oleh laki-laki. Seluruh pasien PPOK mendapat bronkodilator (100%) baik pemberian tunggal maupun kombinasi sebagai terapi

lini pertama dimana golongan metilxanthin (54%) lebih banyak digunakan. Obat lain yang digunakan adalah golongan kortikosteroid yaitu deksametason (44%) banyak diberikan pada pasien serta antibiotik golongan kuinolon (57%) juga mendominasi terapi PPOK.
Efek samping potensial yang mungkin terjadi pada terapi yaitu adanya penurunan kadar kalium pada saat penggunaan obat yang bersamaan antara salbutamol, kortikosteroid, teofilin, diuretik kuat dan diuretik, mual-muntah setelah pemberian siprofloksasin, terjadinya oropharyngeal candidiasis pada pemberian obat dengan rute itihalasi, dan adanya efek pada jantung yaitu takikardia jika diberikan teofilin dan salbutamol pada rute pemberian secara oral dan parenteral. Interaksi obat potensial yang teridentifikasi yaitu teofilin-simetidin dan teofilin-siprofloksasin yaitu peningkatan kadar teofilin serta pada pemakaian antasida dan adsorben non spesifik yang dapat mengganggu absorbsi obat-obat yang digunakan per oral. Karena adanya masalah terkait obat pada penelitian, maka diperlukan kerjasama antara farmasis dengan tenaga kesehatan lainnya. Peran aktif farmasis dalam monitoring efek terapi, efek samping dan interaksi obat serta konseling kepada pasien seperti pada pemakaian inhaler sangat diperlukan sehingga dapat tercapai efek terapi yang optimal pada pasien PPOK.
Wahyuni, Ambar - Personal Name
6B.S Wah s
6B.S Wah s
Text
Indonesia
Fakultas Farmasi UNAIR
2008
Surabaya
xii, 138p.; 30cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...